Unsur Pimpinan & Kepala Sekolah Muhammadiyah se-Sultra Studi Tiru ke Ummusshabri

 

Kendari, (MTs Pesri)---Lembaga Pendidikan lingkup yayasan Ummusshabri Kendari kembali mendapatkan perhatian dan menjadi daya tarik tersendiri bagi praktisi, penentu dan pelakasana Pendidikan.

Studi Tiru  ke Ummusshabri berlangsung pada Jum’at 29 September 2023 para Pimpinan Daerah Muhammadiyah  (PDM), Ketua dan Sekretaris Majelis Dikdasmen PDM, Kepala Sekolah/Madrasah dan Mudir/Pengelola Pesantren Muhammadiyah se Sulawesi Tenggara yang jumlahnya sekitar 50 orang melakukan kunjungan ke Ummusshabri, kegiatan ini dalam rangka melakukan studi tiru dan belajar serta melihat lebih dekat bagaimana pengelolaan lembaga pendidikan ini sehingga menjadi maju dan unggul yang sudah dikenal luas dan mendapatkan pengakuan dari masyarakat, tidak hanya masyarakat local tetapi juga nasional bahkan internasional. Rombongan studi tiru dari Muhammadiyah tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. H. Nur Alim Basri, M.Pd, selaku Ketua Majelis Pendidikan Dasar Menengah (Dikdasmen) dan Pengembangan Pondok Pesantren Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sultra.

Kunjungan ini ini diawali dengan penyambutan dari unsur pengurus Yayasan dan para kepala Madrasah Ummusshabri bertempat di aula mini Kantor Yayasan yang selanjutnya dilakukan sharing informasi dan dialog/tanya jawab antara kedua belah pihak.

Pada kegiatan dialog ini diawali dengan pengantar kata oleh Sekretaris Majelis Dikdasmen PWM Amir Mahmud, S.Pi., MP dengan terlebih dahulu memperkenalkan satu pesersatu peserta field trip dari Muhammadiyah.

Lebih lanjut yang mewakili rombongan menyampaikan tujuan kedatangannya ke Ummusshabri, “kami datang ke sini dalam rangka melihat, memandang, meraba dan menyaksikan perkembangan Ummusshabri saat ini yang mengalami kemajuan pesat jika dibandingkan dengan kondisi Ummusshabri di masa lalu seperti yang saya, kita dan kebanyakan orang menyaksikannya, tentu kami ingin tau lebih dekat dan menggali lebih dalam bagaimana cara mengelola satuan Pendidikan di Ummusshabri hingga menjadi lebih baik dan bermutu, dalam arti bermutu secara berkesinambungan tidak hanya untuk hari ini akan tetapi juga tetap bermutu di masa yang akan datang, “harapnya.

Lebih lanjut Amir Mahmud bersyukur, “Alhamdulillah, kami ucapkan banyak terima kasih kepada segenap pimpinan yayasan Ummusshabri dan kepala madrasah atas kesediaannya menerima kami, terlebih lagi telah disambut dengan jamuan makan siang yang berkualitas, “ucapnya.

Dalam kegiatan ini pula Dr. H. Supriyanto, MA Ketua Yayasan Ummusshabri Kendari  mengawali sambutannya dengan memperkenalkan Ummusshabri dengan mengungkap tipe tipe kelas yang ada, ia menguangkapkan “di Ummusshabri itu terdapat 3 tipe kelas, yaitu; pertama, kelas Billingual Cibi-Ciber, (cerdas intelektual berbasis Islami dan cerdas intelektual berbasis relegius), dan yang menyempurnakan kepanjangan istilah ini yaitu pada kata “berbasis” yang semula “berbakat”, adalah alm. Prof. Dr. H. Abdullah Al-Hadza, MA yang terkenal dengan kemampuannya membuat istilah-istilah yang keren, “kenangnya.

Kedua, adalah kelas Bilingual Tahfizh, dan yang ketiga, adalah kelas Internasional karena menggunakan Cambridge assessment, yang sekarang sedang diurus Ummusshabri untuk menjadi Center Cambridge Assessment wilayah Timur Indonesia, dan ketiga tipe kelas tersebut semuanya berbasis bilingual, “jelasnya.

Supriyanto juga menambahkan terkait dengan tahapan perkembangan yang ad di Ummusshabri“Ummusshabri ini telah terjadi 4 kali transformasi kelas yaitu; pertama, kelas murahan dan gratis, kedua, dari kelas gratis ke kelas berbayar, ketiga dari kelas regular ke kelas Cibi Ciber dan, keempat, dari kelas Cibi-Ciber ke kelas tahfizh dan Internasional. Transformasi itu adalah sebagai tuntutan terutama bagi masyarakat perkotaan,”tegasnya.

Ia juga menambahkan, “di Ummusshabri sejak 2016 pengajarannya berbasis team teaching dengan sistem integrasi ilmu, yaitu setiap kelas terdiri dari guru sains dan guru agama, double kurikulum (kurikulum nasional dan internasional) itu diramu kembali oleh guru sehingga melahirkan perangkat pembelajaran dan kurikulum yang sudah menggambarkan integrasi ilmu, sehingga guru agama-pun harus paham tentang sains dan sebaliknya guru sains juga paham ilmu agama yang terkait dengan disiplin ilmu sainnya, “jelasnya.

Dalam kesempatan ini pula tim Studi tiru mempertanyakan beberapa hal, diantaranya; bagaimana penerapan kedisiplinan guru dan system rekrutmen guru.

Menjawab pertanyaan terkait penerapan kedisiplinan guru dan staf, kepala PAUD Ummusshabri Wildanianti, S.Pd menuturkan “guru dan staf setiap harinya wajib datang ke sekolah sebelum jam 06.45 wita karena pada jam tersebut guru dan staf wajib mengikuti kegiatan breefing pagi, dan konsekwensinya jika terlambat untuk satu dua kali masih diberi toleransi dan peringatan, akan tetapi jika masih terjadi lagi maka akan dilakukan pemotongan gajinya, “tegasnya.

Adapun dengan sistem rekrutment guru, ketua Yayasan menjelaskan, “rekrutment guru di Ummusshabri dilakukan dengan sistem assessment secara transparan dan terbuka, dengan melibatkan penguji independent dari beberapa ahli dan praktisi Pendidikan, dengan tahapan yang lebih berat dibandingkan dengan sistem rekrutmen tenaga ASN/P3K, karena semua pelamar wajib melalui 4 tahapan yaitu, tes tertulis, wawancara komitment dan jejak rekam, kemampuan bilingual, IT dan baca tulis Qur’an serta peer teaching berbasis bilingual, “tutupnya.

Dipenghujung kunjugan, dilanjutkan dengan kegiatan kunjungan kelas, untuk melihat lebih dekat tentang kondisi tempat dan sarana pembelajaran serta proses pembelajaran di masing-masing satuan Pendidikan (PAUD, MI, MTs dan MA) lingkup Yayasan Ummusshabri. (MA/IK)

 

 

 

Share this post

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn

Additional information